Pendidikan sebagai suatu Sistem

 

Pendidikan Sebagai suatu Sistem

A. Pengertian Sistem

  1. Jumlah keseluruhan dari bagian-bagian yang saling bekerja sama untuk mencapai hasil yang diharapkan berdasarkan kebutuhan yang telah ditentukan
  2. Seperangkat unsur yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi dalam satu lingkungan tertentu (ludwig, 1997)
  3. Sekumpulan elemen yang saling berhubungan untuk mencapai suatu tujuan (Rapoport, 1997)
  4. Setiap kesatuan secara konseptual atau fisik yang terdiri dari bagian-bagian yang saling mempengaruhi (Ackof, 1997)
  5. Merupakan bagian-bagian  yang beroperasi secara bersama-sama untuk mencapai tujuan (Davis, 1995)
  6. Kelompok elemen yang terintegrasi untuk mencapai suatu tujuan (McLeod, 2001)
  7. System is any identifiable assemblage of element (object, person, activities, information record) which are interrelated by process or structure and which are presumed to function as and organizational entity generating an observable product (Ryans, 1968)

a)Sistem diidentifikasi dari setiap rangkaian unsur (benda, orang, aktivitas,  ca      tatan informasi) yang terkait dengan proses atau struktur dan yang         dianggap berfungsi sebagai entitas organisasi dan menghasilkan produk yang diamati

b)Entitas : sebuah objek yang keberadaannya dapat dibedakan terhadap objek     lain, dapat berupa orang, benda, tempat.

Kesimpulan, sistem: suatu rangkaian keseluruhan kebulatan kesatuan dari komponenkomponen yang saling berinteraksi atau interdependensi dalam mencapai tujuan

B.Karakteristik Sistem

  • Mempunyai unsur-unsur elemen komponen yang saling berhubungan
  • Unsur-unsur elemen komponen dalam suatu sistem menunjukkan adanya kesatuan dalam proses  yang mengarah/ menuju pada satu tujuan
  • Pencapaian tujuan ditandai dengan berfungsinya secara terorganisir komponen elemen unsur-unsur di dalam sistem tersebut

C.Unsur-Unsur Sistem

  • Ada satu kesatuan organis
  • Adanya komponen yang saling membentuk kesatuan organis
  • Adanya hubungan keterkaitan antara komponen satu dengan yang lain maupun antara komponen dengan keseluruhan
  • Adanya gerak atau dinamika
  • Adanya tujuan yang ingin dicapai

D. Pendidikan sebagai Sistem

 

Pendidikan mendatangkan pengajar, uang, alat belajar, peserta didik dari luar lembaga pendidikan. Pendidikan memproses peserta didik dalam proses belajar mengajar. Memproses input pendidikan (peserta didik) yang dilakukan berulangulang dan berkaitan Pendidikan menghasilkan lulusan dan pengaruh positif terhadap lingkungannya

E. Analisa Pendidikan Sebagai Sistem

Penggunaan analisa sistem dalam pendidikan dimaksudkan untuk memaksimalkan pencapaian tujuan pendidikan dengan cara yang efesien dan efektif. Prinsip utama dari penggunaan analisis sistem ialah: bahwa kita dipersyaratkan untuk berpikir secara sistmatik, artinya harus memperhitungkan segenap komponen yang terlibat dalam masalah pendidikan yang akan dipecahkan.

F.Komponen Pokok Pendidikan

  • Tujuan dan Prioritas(MENGARAHKAN KEPADA TUJUAN)
  • Peserta Didik(YANG MENJALANI PROSES)
  • Pengelolaan(KOORDINASI)
  • Struktur dan Jadawa
  • Isi(YANG HENDAK DIKUASAI)
  • Guru(YANG MENYELENGGARAKAN PROSES)
  • Alat Bantu Ajar
  • Fasilitas
  • Teknologi
  • PengawasanMutu
  • Penelitian
  • Biaya

Daftar Pustaka

http://juonorp.blogspot.co.id/2013/09/pendidikan-sebagai-sistem.html

Dwi Siswoyo, dkk. 2013. Ilmu Pendidikan.Yogyakarta: Uny Press

addinabdulhafid.blogs.uny.ac.id

 

Perkembangan Pengembangan Kurikulum di Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN
 

            Sudah sewajarnya jika perbaikan dilakukan kepada hal yang belum benar atau belum sempurna. Hal itu dilakukan demi memperbaiki sesuatu yang menjadi hal penting dalam berlangsungnya dalam kehidupan sehari-hari . Melalui  pelaksanaan dan evaluasi yang di lakukan setiap kekurangan selalu di tutup dengan tetap memperhatikan kepentingan bersama.

Sama halnya dengan perkembangan kurikulum di Indonesia. Kurikulum yang di gantikan kurikulum yang baru memiliki kelamahan dimana kurikulum yang baru selalu hadir dengan memberikan perubahan dan perbaikan. Namun dalam berlangsung yang masih belum dapat dilaksanakan dengan baik oleh pengajar maupun peserta didik. Yang terkadang justru mempersalahkan kurikulum tersebut. Dalam hal ini akan kita bahas tentang beberapa perkembangan kurikulum di Indonesia sejak zaman kerajaan hingga saat ini.

 

BAB II
PEMBAHASAN

Kurikulum pada Masa Kerajaan

  1. Zaman Hindu Budha

Pada saat zaman hindu budha, pendidikan hanya dinikmati oleh kelas Brahmana, yang merupakan kelas teratas dalam kasta Hindu. Mereka umumnya belajar teologi, sastra, bahasa, ilmu pasti, dan ilmu seni bangunan. Sejarah mencatat, kerajaan-kerajaan Hindu seperti Kalingga, Kediri, Singosari, dan Majapahit, melahirkan para empu, punjangga, karya sastra, dan seni yang hebat.

Padepokan adalah model pendidikan zaman hindu yang dikelola oleh seorang guru/bengawan dan murid/cantrik mempelajari ilmu bersifat umum, religius, dan juga kesaktian. Murid di Padepokan bisa keluar masuk bila merasa cukup atau tidak puas dengan pengajaran guru. Di dalam sistem sosial masyarakatnya pun, pendidikan juga sudah mulai berkembang. Pengajaran agama dari para pendeta ke masyarakat dan kalangan bangsawan sudah tentu menggunakan sebuah sistem yang terstruktur. Tulisan Pallawa dan Sansekerta yang digunakan dalam tiap prasasti pun, tentu ada sistem pengajaran yang digunakan sehingga masyarakat pribumi mampu menguasainya.

2. Zaman Islam

Pada zaman penyebaran Islam, pola pendidikan bernapaskan islam menyebar dan mewarnai penyelenggaraan pendidikan. Pusat-pusat pendidikan tesebar di langgar, surau, meunasah (madrasah), masjid, dan pesantren. Pesantren adalah lembaga pendidikan formal tertua di Indonesia. Pesantren diajar oleh seorang kyai, dan santri/murid tinggal di pondok/asrama di sekitar pesantren. Jumlah pondok pesantren cukup banyak tersebar di Jawa, Aceh, dan sumatera selatan.

    

Kurikulum pada Masa Sebelum Kemerdekaan

1. Masa VOC.

Pada masa VOC ( abad 17 – 18), sistem pendidikan dikelola oleh gereja. Sistem ini tidak diatur oleh pemerintah pendudukan, melainkan oleh para pastur atau biarawan. Sistem yang digunakan berlandaskan dengan ajaran agama Nasrani yang mengunakan konsep asrama pula. Namun, pada masa ini, pendidikan hanya untuk tingkat dasar sebatas mengajarkan baca, tulis, dan menghitung.

2. Masa Hindia Belanda.

Pada masa nusantara dikendalikan langsung oleh Kerajaan Belanda, sistem pendidikan sudah mulai terstruktur. Jenjang-jenjang pendidikan sudah ditetapkan dengan menganut prinsip-prinsip yang jelas. Adapun dalam masa ini, sistem pendidikan masa kolonial dibuat sekuler atau menjauh dari kecenderungan agama atau etnis tertentu. Pemerintah langsung mengelola pendidikan, bukan para biarawan lagi. Selain itu, rekrutmen siswa dibuat secara diskriminatif. Sekolah-sekolah dibuat berdasarkan lapisan sosial di dalam masyarakat. Dengan kata lain, akan dibedakan sekolah baik untuk pelajar keturunan Eropa atau bagi para pribumi. Bahkan sekolah untuk pribumi pun, hanya diperuntukan bagi mereka yang berasal dari kalangan bangsawan.

Secara umum, sistem pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda sejak diterapkannya Politik Etis dapat digambarkan sebagai berikut:

  • Pendidikan dasar meliputi jenis sekolah dengan pengantar Bahasa Belanda (ELS, HCS, HIS), sekolah dengan pengantar bahasa daerah (IS, VS, VgS), dan sekolah peralihan.
  • Pendidikan lanjutan yang meliputi pendidikan umum (MULO, HBS, AMS) dan pendidikan kejuruan.
  • Pendidikan tinggi. Hal ini dapat dilihat dengan berdirinya sekolah-sekolah kejuruan. Misal STOVIA(1902) yang kemudia berubah jadi NIAS(1913) dan GHS adalah cikal bakal dari fakultas kedokterannya UI. Rechts School (1922) dan Rechthoogen School (1924).

3. Masa Pendudukan Jepang

Saat perang Asia Timur Raya meletus (1942 – 1945), Indonesia tidak luput dari sasaran pendudukan tentara Jepang. Dengan pasukan gerak cepatnya, tentara Jepang dengan mudah dapat menaklukan pemerintah Hindia Belanda pada awal tahun 1942. Dengan peralihan kekuasaan ini, tentu banyak perubahan baik dari segi politik, ekonomi, sosial, hingga pendidikan. Semua kebijakan yang diterapkan, sudah tentu, ditujukan bagi kepentingan Jepang yang sedang berperang melawan sekutu.

Di bidang pendidikan, ada perubahan yang jelas terjadi. Salah satunya adalah penggunaan bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi pengantar di sekolah. Hal ini tentu sebuah terobosan besar di Indonesia sendiri. Sebelumnya, bahasa pengantar yang digunakan semasa penajajahan Belanda adalah bahasa Belanda atau bahasa daerah masing-masing. Penggunaan bahasa Indonesia ini, secara langsung telah memupuk rasa nasionalisme bangsa Indonesia terhadap identitasnya sendiri

Adapun sistem pendidikan di masa Jepang ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

  • Pendidikan Dasar (Kokumin Gakko / Sekolah Rakyat). Lama studi 6 tahun. Termasuk SR adalah Sekolah Pertama yang merupakan konversi nama dari Sekolah dasar 3 atau 5 tahun bagi pribumi di masa Hindia Belanda.
  • Pendidikan Lanjutan. Terdiri dari Shoto Chu Gakko (Sekolah Menengah Pertama) dengan lama studi 3 tahun dan Koto Chu Gakko (Sekolah Menengah Tinggi) juga dengan lama studi 3 tahun.
  • Pendidikan Kejuruan. Mencakup sekolah lanjutan bersifat vokasional antara lain di bidang pertukangan, pelayaran, pendidikan, teknik, dan pertanian.
  • Pendidikan Tinggi..

Kurikulum pada Masa Setelah Kemerdekaan

Rencana Pelajaran 1947

Awal kurikulum terbentuk pada tahun 1947, yang diberi nama Rencana Pembelajaran 1947. Kurikulum ini pada saat itu meneruskan kurikulum yang sudah digunakan oleh Belanda karena pada saat itu masih dalam proses perjuangan merebut kemerdekaan. Yang menjadi ciri utam kurikulum ini adalah lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain.

Rencana Pelajaran 1947 baru dilaksanakan sekolah-sekolah pada 1950. Sejumlah kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya memuat dua hal pokok: daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, plus garis-garis besar pengajaran. Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran. Yang diutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani. Setelah rencana pembelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum Indonesia mengalami penyempurnaan. Dengan berganti nama menjadi Rentjana Pelajaran Terurai 1952.

Rencana Pelajaran Terurai 1952

Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai 1952. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. seorang guru mengajar satu mata pelajaran,” kata Djauzak Ahmad, Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas periode 1991-1995. Ketika itu, di usia 16 tahun Djauzak adalah guru SD Tambelan dan Tanjung Pinang, Riau.

Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional prak tis.Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964 pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum pendidikan di indonesia. Kali ini diberi nama dengan Rentjana Pendidikan 1964. Yang menjadi ciri dari kurikulum ini pembelajaran dipusatkan pada program pancawardhana yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional, kerigelan dan jasmani. Yang menjadi ciri dalam kurikulum ini adalah setiap pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

Kurikulum 1964&1968

Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah: bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani.

Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.

Kurikulum 1975

Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968. Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. “Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu,” kata Drs. Mudjito, Ak, MSi, Direktur Pembinaan TK dan SD Depdiknas.

Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.

 

Kurikulum 1984

Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL).

Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986 yang juga Rektor IKIP Jakarta — sekarang Universitas Negeri Jakarta — periode 1984-1992. Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. Penolakan CBSA bermunculan.

Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999

Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Sayang, perpaduan tujuan dan proses belum berhasil. Kritik bertebaran, lantaran beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Alhasil,menjelma menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998,diikuti kehadiran suplemen Kurikulum 1999.Tapi perubahannya lebih pada menambah sejumlah materi. Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan undang-undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak.

Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut:

  • Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem catur wulan.
  • Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi).
  • Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.
  • Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen, divergen (terbuka, dimungkinkan lebih dari satu jawaban) dan penyelidikan.
  • Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.
  • Pengajaran dari hal yang konkrit ke ha yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit dan dari hal yang sederhana ke hal yang kompleks.
  • Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman.
  • Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented), di antaranya sebagai berikut :
  • Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/ substansi setiap mata pelajaran.
  • Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.

Kurikulum 2004

Bahasa kerennya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Setiap pelajaran diurai berdasar kompetensi apakah yang mesti dicapai siswa. Sayangnya, kerancuan muncul bila dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa, yakni ujian. Ujian akhir sekolah maupun nasional masih berupa soal pilihan ganda. Bila target kompetensi yang ingin dicapai, evaluasinya tentu lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa.

Meski baru diujicobakan, toh di sejumlah sekolah kota-kota di Pulau Jawa, dan kota besar di luar Pulau Jawa telah menerapkan KBK. Hasilnya tak memuaskan. Guru-guru pun tak paham betul apa sebenarnya kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum.

Kurikulum ini dikatakan sebagai perbaikan dari KBK yang diberi nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP ini merupakan bentuk implementasi dari UU No. 20 tahun 2003 tentang siste8m pendidikan nasional yang dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu: (1)standar isi, (2)standar proses, (3)standar kompetensi lulusan, (4)standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5)standar sarana dan prasarana, (6)standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan (7)standar penilaian pendidikan.

Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu, maka dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, pemerintah telah menggiring pelaku pendidikan untuk mengimplementasikan kurikulum dalam bentuk kurikulum tingkat satuan pendidikan, yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di setiap satuan pendidikan.

Secara substansial, pemberlakuan (baca: penamaan) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih kepada mengimplementasikan regulasi yang ada, yaitu PP No. 19/2005. Akan tetapi, esensi isi dan arah pengembangan pembelajarantetap masih bercirikan tercapainya paket-paket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah subject matter), yaitu:

  • Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
  • Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
  • Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
  • Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
  • Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Terdapat perbedaan mendasar dibandingkan dengan KBK tahun 2004 dengan KBK tahun 2006 (versi KTSP), bahwa sekolah diberi kewenangan penuh dalam menyusun rencana pendidikannya dengan mengacu pada standar-standar yang ditetapkan, mulai dari tujuan, visi-misi, struktur dan muatan kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan hingga pengembangan silabusnya.

KTSP 2006

Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan. Muncullah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Pelajaran KTSP masih tersendat. Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004. Perbedaan yang paling menonjol adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. Hal ini disebabkan karangka dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL), standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Jadi pengambangan perangkat pembelajaran, seperti silabus dan sistem penilaian merupakan kewenangan satuan pendidikan (sekolah) dibawah koordinasi dan supervisi pemerintah Kabupaten/Kota. (TIAR)

Kurikulum yang terbaru adalah kurikulum 2006 KTSP yang merupakan perkembangan dari kurikulum 2004 KBK. Kurikulum 2006 yang digunakan pada saat ini merupakan kurikulum yang memberikan otonomi kepada sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan yang puncaknya tugas itu akan diemban oleh masing masing pengampu mata pelajaran yaitu guru. Sehingga seorang guru disini menurut Okvina (2009) benar-benar digerakkan menjadi manusia yang professional yang menuntuk kereatifitasan seorang guru. Kurikulum yang kita pakai sekarang ini masih banyak kekurangan di samping kelebihan yang ada. Kekurangannya tidak lain adalah (1) kurangnya sumber manusia yang potensial dalam menjabarkan KTSP dengan kata lin masih rendahnya kualitas seorang guru, karena dalam KTSP seorang guru dituntut untuk lebihh kreatif dalam menjalankan pendidikan. (2) kurangnya sarana dan prasarana yang dimillki oleh sekolah.

Kurikulum pada saat ini

Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 terbalik dengan KTSP. Dalam kurikulum 2013 Standar Kompetensi Lulusan seperti apa yang diinginkan akan membentuk mata pelajaran. Jadi, apa yang menjadi kebutuhan di zaman sekarang dan mendatang itulah yang akan diberikan. Kedua, kurikulum 2013 memiliki pendekatan pembelajaran yang lebih utuh dengan mengutamakan kreativitas siswa. Kurikulum baru memenuhi tiga komponen utama pendidikan yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap yang baik. Ketiga, kurikulum 2013 didisain berkesinambungan antara kompetensi yang ada di SD, SMP hingga SMA. Intinya, dalam kurikulum 2013 setiap peserta didik dituntut kreatif dan inovatif karena ke depannya temuan dan kreatifitas yang menjadi andalan. Selain itu ada juga pengembangan karakter bangsa telah diintegrasikan kedalam semua program studi.

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

            Kurikulum pendidikan di Indonesia telah ada sejak zaman kerajaan dan sebelum Indonesia merdeka, meski kurikulum yang ada masih tidak kompleks. Kurang lebih telah delapan kali Indonesia melakukan pergantian kurikulum sejak Indonesia merdeka hingga saat ini. Pergantian dan perkembangan kurikulum yang ada dilaksanakan dengan maksut untuk memperbaiki system pendidikan yang ada dan sekaligus mengikuti perkembangan zaman.

Namun dalam setiap pelaksanaannya masih belum optimal. Hal itu semua terjadi dikarenakan kurang pemahaman dan pemaknaan dari si pengajar ataupun dari pendidik. Sehingga justru menimbulkan permasalahan pendidikan.

 

Saran

            Sebelum melaksanakan dan mengaplikasikan sebuah kurikulum baru, sebaiknya diadakan terlebih dahulu sosialisasi, kepelatihan,vataupun masa persiapan terhadap kurikulum tersebut. Agar tidak terjadi permasalahan kependidikan

 

DAFTAR PUSTAKA

Idi, Abdullah. 2007. Pengembangan Kurikulum Teori & Praktik. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.

Hamalik, Oemar. 2011. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Herlanti, Y. (2008).  Kurikulum Pendidikan Indonesia dari Zaman ke Zaman. [on line]  yherlanti.wordpress.com

http://Kurikulum%20Indonesia%20dari%20Zaman%20ke%20Zaman%20_%20Madrasah.htm

         

Konsep Dasar Kurikulum

Pengertian Kurikulum

Kita telah terbiasa mendengar kata kurikulum. Tetapi kalau ditanya kurikulum itu “makhluknya” seperti apa, siapa yang “menciptakan” mengapa disusun dan lain sebagainya. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kadang-kadang kita butuh waktu untuk merenung. Kurikulum bukan berasal dari bahasa Indonesia, tetapi berasal dari bahasa Latin yang kata dasarnya adalah currere, secara harfiah berari lapangan perlombaan lari. Lapangan tersebut ada batas start dan batas finish. Dalam lapangan pendidikan pengertian tersebut dijabarkan bahwa bahan belajar sudah ditentukan secara pasti, dari mana mulai diajarkan dan kapan diakhiri, dan bagaimana cara untuk menguasai bahan agar dapat mencapai gelar. Dulu kurikulum pernah diartikan sebagai “Rencana Pelajaran”, yang terbagi menjadi rencana pelajaran minimum dan rencana pelajaran terurai. Dalam kenyataannya di sekolah rencana pelajaran tersebut tidak semata-semata hanya membicarakan proses pengajaran saja, bahkan yang dibahas lebih luas lagi yaitu mengenai masalah pendidikan. Oleh karena itu istilah rencana pelajaran kiranya kurang kena.

Akibat dari berbagai perkembangan, terutama perkembangan masyarakat dan kemajuan teknologi, konsep kurikulum selanjutnya juga menerobos pada dimensi waktu dan tempat. Artinya kurikulum mengambil bahan ajar dan berbagai pengalaman belajar tidak hanya terbatas pada waktu sekarang saja, tetapi juga memperhatikan bahan ajar dan berbagai pengalaman belajar pada waktu lampau dan yang akan datang. Dengan demikian kurikulum itu merupakan program pendidikan bukan program pengajaran, yaitu program yang direncanakan , diprogramkan, dan dicanangkan yang berisi berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar baik yang berasal dari waktu yang lalu, sekarang maupun yang akan datang. Berbagai bahan tersebut direncanakan secara sistemik, artinya direncanakan dengan memperhatikan keterlibatan berbagai factor pendidikan secara harmonis. Berbagai bahan ajar yang dirancang tersebut harus sesuai dengan norma-norma yang berlaku sekarang, diantaranya harus sesuai dengan pancasila, UUD 1945, GBHN, UU SISDIKNAS, PP, adapt istiadat, dan lain sebagainya. Program tersebut akan dijadikan pedoman bagi tenaga pendidik maupun peserta didik dalam pelaksanaan proses pembelajaran agar dapat mencapai cita-cita yang diharapkan sesuai dengan yang tertera pada tujuan pendidikan.

Jadi, kurikulum adalah suatu program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dicanangkan secara sistemik atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.

Unsur-unsur dalam pengertian kurikulum tersebut adalah :

  1. Seperangkat Rencana

Seperangkat rencana, artinya bahwa di dalamnya berisikan berbagai rencana yang berhubungan dengan dengan proses pembelajaran. Namanya saja rencana bukan ketetapan, ini berarti bahwa segala sesuatu yang direncanakan dapat berubah sesuai dengan situasi dan kondisi (fleksibel).

  1. Pengaturan Mengenai Isi dan Bahan Pelajaran

Bahan pelajaran ada tang diatur oleh pusat (kurnas) dan oleh daerah setempat.

  1. Pengaturan Cara yang digunakan

         Delevery system atau cara mengajar yang dipergunakan ada berbagi macam, misalnya ; ceramah, diskusi, demonstrasi, inquiry, recitasi, membuat laporan portofolio dan sebagainya. Disarankan dalam pelaksanaannya proses pembelajaran hendaknya para guru menggunakan pendekatan yang student centered bukan yangteacher centered. Yang bersifat heuristic (dengan diolah) bukannya yang bersifat ekspositorik (yang dijelaskan).

  1. Sebagai Pedoman Kegiatan Belajar Mengajar

Penyelenggara kegiatan belajar mengajar terdiri atas tenaga kependidikan, yaitu anggota masyarakat yang mengabdikan diri dalam penyelenggara pendidikan. Sedang tenaga pendidikan yaitu anggota masyarakat yang bertugas membimbing dan atau melatih peserta didik.

Fungsi Kurikulum

Pengertian dari kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan belajar mengajar.

Atas dasar pengertian tersebut maka dapat dikatakan fungsi kurikulum itu berkaitan dengan komponen-komponen yang ada mengarah pada tujuan pendidikan. Komponen-komponen yang dimaksud dalam pengertian tersebut adalah :

  1. Apakah seperangkat rencana tersebut sesuai dengan tujuan yang akan dicapai?
  2. Apakah komponen materi yang tersusun dalam kurikulum itu sesuai dengan tujuan yang dicapai?
  3. Apakah metode (cara) yang dipilih berfungsi pula untuk mencapai tujuan yang akan dicapai?
  4. Apakah para penyelenggara pendidikan berfungsi pula dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tujuan pendidikan?

Yang terkait dalam kurikulum sekolah secara langsung ialah guru, kepala sekolah, para penulis buku ajar, dan masyarakat. Berikut akan dipaparkan seberapa jauh keterlibatan mereka dalam melaksanakan kurikulum.

Tujuan Kurikulum

Tujuan adalah segala sesuatu yang ingin dicapai. Segala sesuatu yang dapat berupa benda konkrit baik yang berupa barang maupun tempat, atau dapat juga berupa hal-hal yang sifatnya abstrak, misalnya cita-cita yang mungkin berupa kedudukan atau pangkat/jabatan maupun sifat-sifat luhur. Dengan kata lain tujuan dapat berupa hal-hal sederhana dapat pula berupa hal-hal yang komplek. Sedang cara penyampaiannya ada berbagai macam. Ada yang hanya dengan kegiatan fisik, tetapi ada yang dengan cara membuat rencana dulu, diprogramkan, mencari dana baru mengerahkan tenaga baik fisik maupun psikis. Kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan itu sendiri sesuatu yang abstrak, ruwet dan komplek.

 

Daftar Pustaka

 

Nama   : Addin Abdul Hafid

NIM    : 15105244009

Prodi   : Teknologi Pendidikan

Kelas   : A

Pendidikan sebagai Ilmu

PENDAHULUAN

            Kehidupan merupakan suatu taqdir bagi manusia yang sudah seharusnya di jalani dengan sepenuh hati. Dalam berkehidupan pula manusia juga selalu memiliki suatu cara yang dilakukannya untuk melewati setiap hal yang tejadi dalam hidupnya. Tentunya tidak selalu manusia dapat berdiri dan dan berjalan secara langsung, pasti ada beberapa hal yang ditanamkan sejak kecil kenapa manusia harus berdiri, berjalan bahkan berlari. Yang jelas dan pasti setiap hal yang akan dilakukan memiliki alas an dan tujuan jelas yang intinya juga merupakan kehendak dari masing-masing individu.

Pendidikan merupakan salah satu jalan yang menuntun,menunjukkan dan bahkan mengharuskan hidup itu ada untuk dikembangkan dalam berbagai aspek yang di miliki setiap individu. Pendidikan juga memperjelas suatu hal untuk di jadikan sebagai patokan untuk pengembangan peradaban manusia. Oleh karena itu pendidikan juga sebuah ilmu yang terlihat samar namun sebenarnya pendidikan lah yang memegang peran penting dalam setiap aspek kehidupan pada umumnya.

 

PEMBAHASAN

 

  1. Pendidikan Sebagai Ilmu

Adapun pengertian pendidikan sebagai ilmu menurut para pakar adalah sebagai berikut:

a) Brojonegoro, ilmu pendidikan yaitu teori pendidikan, perenungan tentang pendidikan, dalam arti luas ilmu pendidikan yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari soal-soal yang timbul dalam praktek pendidikan.

b)Carter V. Good, suatu bangunan yang sistematis mengenai aspek-aspek kuantitatif, objektif dan proses belajar, menggunakan instrument secara seksama dalam mengajukan hipotesis-hipotesis pendidikan untuk diuji dan pengalaman seringkali dalam eksperimental.

c)Imam Barnadib, ilmu yang membicarkan masalah-masalah umum pendidikan secara menyeluruh dan abstrak. Ilmu pendidikan bercorak teoritis dan bersifat praktis.

d)Driyarkara, pemikiran ilmiah yang bersifat kritis, metodis, dan sistematis tentang realitas yang disebut pendidikan.

 

  1. Persyaratan Pendidikan Sebagai Ilmu

 

Suatu kawasan studi dapat tampil sebagai disiplin ilmu, bila memenuhi syarat- syarat:

 

Memiliki objek studi (formal dan material)

Objek material ilmu pendidikan adalah perilaku manusia. Objek formalnya adalah menelaah fenomena pendidikan dalam perspektif yang luas dan integrative.

 

   Memiliki sistematika

Sistematika ilmu pendidikan dibedakan menjadi 3 bagian yaitu:

1) Pendidikan sebagai gejala manusiawi, dapat dianalisis yaitu adanya komponen

pendidikan yang saling berinteraksi dalam suatu rangkaian keseluruhan untuk

mencapai tujuan. Komponen pendidikan itu adalah:

(a)   Tujuan pendidikan,

(b)   Peserta didik,

(c)   Pendidik,

(d)   Isi pendidikan,

(e)   Metode pendidikan,

(f)   Alat pendidikan,

(g)   Lingkungan pendidikan.

2) Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengembangkan kepribadian  dan kemampuan

manusia. Menurut Noeng Muhadjir sistematika ini bertolak dari fungsi pendidikan,

yaitu:

(a) Menumbuhkan kreatifitas peserta didik,

(b) Menjaga lestarinya nilai insani dan nilai ilahi,

(c) Menyiapkan tenaga produktif.

3) Pendidikan sebagai gejala manusiawi. Menurut Mochtar Buchori ilmu   pendidikan

mempunyai 3 dimensi:

(a) Dimensi lingkungan pendidikan,

(b) Dimensi jenis-jenis persoalan pendidikan,

(c) Dimensi waktu dan ruang.

 

 Memiliki metode

Memliki metode-metode dalam ilmu pendidikan:

a) Metode normative, berkenaan dengan konsep manusiawi yang diidealkan yang ingin dicapai.

b) Metode eksplanatori, berkenaan dengan pertanyaan kondisi, dan kekauatan apa yang membuat suatu proses pendidikan berhasil.

c) Metode teknologis, berkenaan dengan bagaimana melakukannya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan.

d) Metode deskriptif, fenomenologis mencoba menguraikan kenyataan-kenyataan pendidikan dan lalu mengklasifikasikannya.

e) Metode hermeneutis, untuk memahami kenyataan pendidikan yang konkrit dan historis untuk menjelaskan makna dan struktur dan kegiatan pendidikan.

f) Metode analisis kritis, menganalisis secara kritis tentang istilah, pernyataan, konsep,dan teori yang ada dalam pendidikan.

 

  1. Sifat-Sifat Ilmu Pendidikan

Sifat – sifat pedidikan ada 4, yaitu:

a) Empiris,karena objeknya dijumpai dalam dunia pengalaman.

b) Rokhaniah, karena situasi pendidikan berdasar atas tujuan manusia tidak membiarkan peserta didik kepada keadaan alamnya.

c) Normatif,karena berdasar atas pemilihan antara yang baik dan yang buruk. Ilmu pendidikan itu selalu berurusan dengan soal siapakah “manusia” itu. Pembahasan mengenai siapakah manusia itu biasanya termask bidang filsafat, yaitu filsafat antropologi. Pandangan filsafat tentang manusia sangat besar pengaruhnya terhadap konsep serta praktik-praktik pendidikan. Karena pandangan filsafat itu menentukan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh seorang pendidik atau suatu bangsa yang melakukan pendidikan.

d)Histories, karena memberikan uraian teoritis tentang sitem-sistem pendidikan sepanjang jaman dengan mengingat latar belakang kebudayaan dan filsafat yang berpengaruh pada jaman tertentu.

 

  1. PENUTUP

 

  1. kesimpulan

        Ilmu pendidikan adalah ilmu yang menelaah fenomena pendidikan dan semua fenomena yang berkaitan dengan pendidikan dalam preskreptif yang luas dan integratif. Dalamam pendidikan sebgai ilmu juga disebut sebagai upaya memanusiakan manusia dalam rangka menjadikan manusia sesungguhnya, karena pendidikan telah ada dan dilakukan sejak kita lahir hingga nanti kita pergi. Pendidikan mencakup seluruh aspek mendidik dan dididik yang merupakan hal-hal penting dalam sebuah pendidikan

 

B.Saran

Dalam pelaksanaan pendidikan kita juga masih harus memperhatikan keadan lingkungan sosial, karena terbentuknya kita yang pasti untuk memenuhi kebutuhan lingkungan dan kita juga harus memahami setiap individu agar kita dalam memanusikan manusia, tetap dapat menghargai dan menhormati hak orang lain

 

 

Daftar Pustaka

Siswoyo Dwi,dkk,2015,Ilmu Pendidikan,Yogyakarta,UNY Press

Sugihartono,dkk,2015,PSIKOLOGI PENDIDIKAN,Yogyakarta,UNY press

http://blogsedukasi.blogspot.co.id/2012/05/pendiidkan-sebagai-ilmu.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Arti Pendidikan

 

 

  1. Pengertian Pendidikan

Secara sejarah, pendidikan dalam arti luas telah mulai dilaksanakan sejak manusia berada di muka bumi ini. Pendidikan sendiri memiliki umur yang sama tua dengan sejak awal manusia ada hingga sekarang, pendidikan pun juga ada sejak awal manusia hingga sekarang. Pendidikan setiap zaman selalu berkembang dan selalu berkembang siring dengan meningkatnya pola pikir manusia yang juga dalam setia kegiatan dan umurnya selalu bertambah kompleks dan kritis.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Pendidikan bisa saja bermula dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.

Pendidikan bisa diperoleh baik secarah formal dan nonformal. Pendidikan Formal diperoleh dalam kita mengikuti progam-program yang sudah dirancang secara terstruktur oleh suatu intitusi, departemen atau kementerian suatu negara. Pendidikan non formal adalah pengetahuan yang didapat manusia (Peserta didik) dalam kehidupan sehari-hari (berbagai pengalaman) baik yang dia rasakan sendiri atau yang dipelajarai dari orang lain (mengamati dan mengikuti).

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232, tentang Pengertian Pendidikan , yang berasal dari kata “didik”, Lalu kata ini mendapat awalan kata “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

 

Berikut pengertian pendidikan menurut para ahli:

Suroso Prawiroharjo,1984

Dimuat dalam dalam tulisan Raka Joni, dkk. (1984:5) Salah satu konsep pendidikan yang layak diajarkan di lembaga pendidikan guru adalah yang menggambarkan pendidikan sebagai bantuan pendidik untuk membuat peserta didik dewasa.sehingga kegiatan mendidik selesai saat kedewasaan telah dicapai. Kedewasaan yang dimaksud adalah kemampuan menetapkan pilihan atau keputusan serta mempertanggung jawabkanperbuatan atau tindakan secara mandiri.

George F. Kneller

Dalam bukunya yang berjudul : Foundation of education I (1967:63), Pendidikan dapat adipandang dalam arti luas dan dalam arti teknis, atau dalam arti hasil dan dalam arti proses. Dalam artinya yang luas pendidikan menunjuk pada suatu tindakan atau pengalaman yang mempunyai pengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan jiwa,watak dan fisik individu. Pendidikan dalam arti ini berlangsung terus menerus.

John Dewey

Dalam bukunya Democracy and education (1950:89-90), Pendidikan adalah rekrontruksi atau reorganisasi pengalaman yang menambah makna pengalaman, dan yang menambah kemampuan untuk mengarahkan pengalaman selanjutnya.

John S. Brubacher

Dalam bukunya Modern Philosophies of education (1977:371), Pendidikan adalah proses dimana potensi-potensi, kemampuan-kemampuan, kapasitas-kapasitas manusia yang mudah dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan yang baik, dengan alat atau media yang disusun sedemikian rupa, dan digunakan oleh manusia untuk menolong orang lain atau dirinya sendiri dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.

Ki Hajar Dewantara

Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Menurut UU No. 20 tahun 2003

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.

Thompson

Pendidikan adalah pengaruh lingkungan terhadap individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap dalam kebiasaan perilaku, pikiran dan sifatnya.

M.J. Longeveled

Pendidikan merupakan usaha , pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak agar tertuju kepada kedewasaannya, atau lebih tepatnya membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri.

Prof. Richey

Dalam bukunya ‘Planning for teaching, an Introduction to Education’ menjelaskan Istilah ‘Pendidikan’ berkenaan dengan fungsi yang luas dari pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat terutama membawa warga masyarakat yang baru (generasi baru) bagi penuaian kewajiban dan tanggung jawabnya di dalam masyarakat.

Ibnu Muqaffa (salah seorang tokoh bangsa Arab yang hidup tahun 106 H- 143 H, pengarang Kitab Kalilah dan Daminah)

“Pendidikan itu ialah yang kita butuhkan untuk mendapatkan sesuatu yang akan menguatkan semua indera kita seperti makanan dan minuman, dengan yang lebih kita butuhkan untuk mencapai peradaban yang tinggi yang merupakan santaan akal dan rohani.”

Plato (filosof Yunani yang hidup dari tahun 429 SM-346 M)

Pendidikan itu ialah membantu perkembangan masing-masing dari jasmani dan akal dengan sesuatu yang memungkinkan tercapainya kesemurnaan.

 

  1. Unsur-Unsur Pendidikan
  2. Dalam pendidikan terkandung pembinaan (pembinaan kepribadian), pengembangan (pengembangan kemampuan dadan potensi diri yang perlu dikembangkan), peningkatan (dari tidak tahu menjadi tahu), serta tujuan (kea rah mana peserta didik akan diharapkan dapat mengaktualisasikan dirinya seoptimal mungkin)
  3. Dalam pendidikan, secara implicit terjalin hubungan antara dua pihak, yaitu pihak pendidik dan pihak peserta didik, yang di dalam hubungan itu nerlainan kedudukan dan peranan setiap pihak, akan tetapi sama dalam hal dayanya yaitu saling mempengaruhi, guna terlaksananya proses pendidikan (transformasi pengetahuan, nilai-nilai dan ketrampilan-ketrampilan) yang tertuju pada tujuan-tujuan yang di inginkan.
  4. Pendidikan adalah proses sepanjang hayat dan upaya perwujudan pembentukan diri seceara utuh dalam arti pengembangan segenap potensi dalam pemenuhan semua komitmen manusia sebagai individu, sebagai makhluk social dan makhluk tuhan.
  5. Aktivitas pendidikan dapat berlangsung dalam keluarga, dalam sekolah dan dalam masyarakat.

 

Daftar Pustaka

Siswoyo,Dwi DKK,(2013). Ilmu Pendidikan,Yogyakarta : UNY Press

http://www.e-jurnal.com/2013/11/pengertian-pendidikan-menurut-para-ahli.html

 

Nama   : Addin Abdul Hafid

Nim     : 1510 5244 009

Kelas   : Teknologi Pendidikan A